Jangan Ngaku Tidak Bisa Kalau Belum Berusaha dan Belajar

Sebagai seorang guru dan seorang tutor saya sering menemui siswa yang mengaku tidak bisa pokok bahasan tertentu khususnya pada mata pelajaran matematika. Sebagai seorang guru saya bersikap membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Pastinya, bukan membantu menyelesaikan soal yang menjadi latihan untuk dia sampai selesai. Tapi memandu siswa yang bertanya tersebut untuk menggali pengetahuan yang dia miliki dan menghubungkannya dengan masalah yang dia hadapi pada saat latihan soal. Beda halnya dengan ketika saya berperan sebagai seorang tutor di sebuah bimbingan belajar. Bantuan yang saya berikan lebih dari kadar saya sebagai seorang guru. Malah bantuan saya sampai kepada membantu menyelesaikan soal sampai selesai. Beruntung ketika siswa yang saya bantu mengikuti alur penyelesaian soal sambil mempelajari dan memahami. Tapi tidak dengan siswa bimbingan belajar yang memiliki karakter ingin dibantu menyelesaikan soal pekerjaan rumah yang ditugaskan gurunya di sekolah mentah-mentah. Dia hanya bertugas menyalin penyelesaian yang saya kerjakan, bahkan lebih parah lagi, dia tidak mencatatnya tapi memotretnya untuk kemudian ditulis ulang di rumah.

Lama-kelamaan saya berpikir bahwa bantuan mentah-mentah yang saya berikan kepada siswa yang meminta bantuan menyelesaikan PRnya malah akan membuatnya semakin tidak mampu untuk mempelajari ilmu-ilmu yang akan dia hadapi selanjutnya. Tapi ya, mau bagaimana lagi. Saya harus bisa memenuhi tuntutan bimbingan belajar tempat saya bekerja, walau tidak sesuai dengan pola pikir saya sebagai seorang guru.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa "berilah anak pancingan dan ajarkan memancing agar dia bisa tetap makan ikan dan janganlah memberinya ikan secara langsung karena dia tidak akan bisa makan ikan lagi ketika tidak ada yang memberinya ikan". Inilah prinsip yang saya pegang ketika menjalankan profesi sebagai seorang guru. Seorang guru bukan hanya sebagai sumber ilmu. Lebih dari itu, guru bertugas untuk bisa membuat siswa belajar dan mendapatkan ilmunya sendiri melalui proses belajar. Karena belajar tidak hanya dilakukan di kelas. Belajar harus tetap dilakukan agar kemampuan kita dalam suatu hal terus meningkat.

Saya menemui beberapa siswa yang mengaku tidak bisa matematika. Tapi saya melihat bahwa dia tidak benar-benar belajar matematika. Memperhatikan guru menjelaskan suatu materi pelajaran di depan kelas belum bisa dikatakan sebagai kegiatan belajar kalau pada diri siswa tidak terjadi perubahan. Seseorang dikatakan telah belajar jika terdapat perubahan pada dirinya dari yang asalnya tidak bisa menjadi bisa, dari yang asalnya tidak tahu menjadi tahu, dari yang asalnya tidak paham menjadi paham. Kalau hanya memperhatikan penjelasan dari guru tanpa ada kemauan untuk terus meningkatkan kemampuannya, percuma saja duduk di kelas dan mengikuti suatu pelajaran.

Keluhan siswa yang mengaku tidak bisa matematika cukup sepele. Saya katakan sepele karena alasan siswa tersebut tidak bisa terus belajar matematika lebih lanjut disebabkan hilangnya kemampuan matematika yang sangat mendasar, diantaranya adalah kemampuan mengenai operasi bilangan bulat dan pecahan. Saya bingung ketika mendapati siswa kelas 12 SMA tidak bisa mengoperasikan bilangan bulat dan pecahan tapi dia bisa belajar sampai pada tingkat tersebut. Saya bingung, bagaimana dia bisa lulus dan menyelesaikan pendidikannya di SD dan SMP tapi tidak ada kemampuan yang membekas pada dirinya. Apakah ada semacam penghalalan cara apa pun agar dapat lulus dan menyelesaian suatu jenjang pendidikan? Saya khawatir kalau dia akhirnya menjadi pejabat. Akan sangat kacau jadinya. Bolehlah berdalih lupa, tapi apakah kemampuan dasar tersebut begitu rumit sehingga mudah dilupakan begitu saja.

Solusi bagi siswa yang mengaku tidak bisa pelajaran tertentu khususnya matematika yang saya pikirkan adalah jika merasa tidak bisa pada materi tertentu, coba untuk mempelajarinya kembali. Tidak akan repot mengambil waktu luang untuk kembali mengulang belajar materi yang tidak dimengerti dan tidak perlu mencari banyak alasan untuk menuruti rasa malas belajar.

Oleh Opan pada
Seorang guru matematika yang hobi menulis tiga bahasa, yaitu bahasa indonesia, matematika, dan php. Dari ketiganya terwujudlah website ini sebagai sarana berbagi pengetahuan yang saya miliki.

Demi menghargai hak kekayaan intelektual, mohon untuk tidak menyalin sebagian atau seluruh halaman web ini dengan cara apa pun untuk ditampilkan di halaman web lain atau diklaim sebagai karya milik Anda. Tindakan tersebut hanya akan merugikan diri Anda sendiri. Jika membutuhkan halaman ini dengan tujuan untuk digunakan sendiri, silakan unduh atau cetak secara langsung.

Protected by Copyscape