Merantau Part 1

Berawal dari Akhir
Biasanya ungkapan ini digunakan untuk suatu titik tolak yang dimulai dengan menetapkan tujuan atau target. Tapi bagi saya ungkapan ini merupakan ungkapan dari apa yang saya alami saat ini. Saya mengakhiri pekerjaan saya di Bandung dan memulai hidup baru di luar kota, luar provinsi, bahkan luar pulau. Saya memulai hidup baru di kota Tanjungpinang yang merupakan ibukota provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Keputusan ini sudah direncanakan setahun sebelumnya atas kesepakatan bersama calon istriku. Saya bersedia untuk meninggalkan tempat tinggal saya dan memulai hidup baru di tempat tinggal calon istri agar dapat menikah dan hidup bersama di sana. Bagi saya ini merupakan keputusan yang sangat besar karena banyak yang saya korbankan, salah satunya adalah pekerjaan yang sudah saya jalani selama 3,5 tahun. Syukur dari hasil pekerjaan tersebut saya bisa menabung dan hasil tabungannya bisa saya jadikan bekal untuk berangkat ke sana serta untuk bekal selama saya belum mendapat pekerjaan baru di sana. Saya berani mengambil keputusan meninggalkan seluruh pekerjaan saya di Bandung karena saya mendapat jaminan dari calon istri, calon mertua, dan sebagian besar keluarga calon istri saya dan itu terbukti setelah saya akhirnya tinggal di kota tempat tinggal calon istri saya.

Tidak mudah mendapat pekerjaan baru di tempat orang lain
Sudah saya perkirakan kemungkinan buruk bahwa ketika saya pindah kota tempat tinggal saya tidak bisa langsung memperoleh pekerjaan. Untungnya saya memiliki tabungan. Ternyata benar, susah juga mendapatkan pekerjaan baru di kota orang apalagi saya benar-benar merupakan orang baru di sana. Bantuan datang dari rekan kerja calon istri saya yang bersedia mencarikan pekerjaan untuk saya sebagai guru di sekolah negeri di sana. Saya berpikir mungkin dengan adanya orang sana yang membantu bisa meringankan saya dalam mendapatkan pekerjaan. Tapi ternyata ceritanya sangat jauh dari harapan saya. Tahun ajaran ini sekolah tidak diperbolehkan lagi menerima guru honorer dan keputusan ini datang dari pemerintah kota. Saya pun hanya bisa gigit jari menerima kenyataan bahwa kemungkinan mendapatkan pekerjaan dengan segera cukup sulit.

Tidak selesai sampai di sana. Bantuan berikutnya datang dari saudara calon istri saya yang bekerja di pemerintahan provinsi. Saya berpikir dia cukup berwenang untuk membantu saya mendapatkan pekerjaan. Diantarnya saya ke beberapa sekolah negeri di sana dan saya ditawarkan kepada kepala sekolah secara langsung untuk dapat bekerja di sana. Karena adanya surat edaran dari pemerintah kota dan dari dinas pendidikan setempat untuk tidak menerima guru honorer, kepala sekolah pun tidak bisa mengambil keputusan untuk menerima saya sebagai salah satu guru honorer di sekolah yang dipimpinnya. Untuk lebih memperjelas, saya pun diajak ke kantor dinas pendidikan setempat untuk memastikan kebenaran surat edaran yang membuat kepala sekolah tidak berani menerima saya walaupun sebenarnya mereka bisa menerima saya. Kepala dinas pendidikan pun membenarkan adanya surat edaran yang menyatakan bahwa sekoleh tidak boleh menerima guru honorer. Saya pun menerimanya dengan tulus karena saya tidak bisa berbuat apa-apa dan saya tidak punya kuasa apa-apa, apalagi di kota orang.

Memang, penghasilan seorang guru honorer sangat kecil. Tapi saya tidak berpikir gajinya, yang penting saya bisa bekerja, apa pun pekerjaannya. Agar saya tidak canggung dengan orang-orang di sana ketika ditanyakan pekerjaan.

Saya merasa tidak berguna ketika tinggal di sana tanpa pekerjaan. Tapi saya cukup beruntung karena orang tua dan keluarga calon istri saya terus mendukung saya. Saya datang tidak membawa apa-apa, tapi mereka sangat menghargai kedatangan saya bahkan terus memberikan dukungan kepada saya ketika saya tidak mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan dengan segera.

Kerja di sekolah negeri tidak memungkinkan untuk tahun ajaran ini. Akhirnya saya memutuskan untuk bekerja sebagai pengajar bimbingan belajar. Pekerjaan yang selama 3,5 tahun saya jalani selama di Bandung. Tadinya saya tidak mau lagi bekerja di bimbingan belajar. Tapi karena bekerja di tempat lain tidak memungkinkan, saya putuskan untuk bekerja kembali sebagai pengajar bimbingan belajar.

Saya sampaikan kepada calon mertua dan keluarga calon istriku bahwa saya akan bekerja di bimbingan belajar saja. Mereka pun mendukung. Mereka tidak membebankan tuntutan yang terlalu besar kepada saya untuk saat ini. Yang penting untuk saat ini saya bisa bekerja apa pun pekerjaannya. Mengenai pekerjaan yang lebih baik dan bisa memberikan penghasilan yang besar, bisa diperoleh seiring berlarinya waktu.

Itulah cerita awal saya merantau ke tempat yang sangat sangat jauh yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Oleh Opan pada
Seorang guru matematika yang hobi menulis tiga bahasa, yaitu bahasa indonesia, matematika, dan php. Dari ketiganya terwujudlah website ini sebagai sarana berbagi pengetahuan yang saya miliki.

Demi menghargai hak kekayaan intelektual, mohon untuk tidak menyalin sebagian atau seluruh halaman web ini dengan cara apa pun untuk ditampilkan di halaman web lain atau diklaim sebagai karya milik Anda. Tindakan tersebut hanya akan merugikan diri Anda sendiri. Jika membutuhkan halaman ini dengan tujuan untuk digunakan sendiri, silakan unduh atau cetak secara langsung.

Protected by Copyscape