Merantau Part 2

Saya sudah punya tempat tinggal sendiri walaupun ngekos. Lebih enak daripada numpang di rumah camer. Tapi kalau makan masih dan selalu numpang di rumah camer.

Saya sudah mulai punya kesibukan, ngelamar kerja di sebuah bimbingan belajar dan mengikuti proses recruitment. Kayaknya siy, saya bakal diterima (kepedean akut).

Itulah penggalan tambahan kisah perantauan saya ke Tanjungpinang dalam rangka berniat membangun sebuah keluarga (atau bergabung dengan keluarga yang sudah terbangun). Melanjutkan kisah dari episode sebelumnya.

Hal yang saya khawatirkan selama di sini adalah tidak mendapat pekerjaan. Kenapa khawatir? Takut gak dapet uang? Bukan. Saya merasa tidak nyaman ketika terlihat tidak berangkat dan pulang bekerja. Kebanyakan orang menganggap bahwa orang yang tidak berangkat bekerja sebagai pengangguran. kalau saya sendiri berpikir, uang tidak hanya dapat diperoleh dari bekerja. Bisa saja diperoleh dari warisan, bisnis, dan sebagainya. Bagi saya, bekerja adalah suatu bentuk aktualisasi diri. Walaupun saya mendapat penghasilan dari adsense, tapi tetep saja gak nyaman kalau gak kelihatan berangkat kerja. Orang pada umumnya tidak begitu memahami bagaimana prinsip kerja bisnis adsense. Salah-salah nanti dianggap ngepet. Dapet duit, tapi diem aja di rumah.

Setelah menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa bekerja sebagai pengajar di sekolah negeri karena adanya surat edaran yang tidak membolehkan kepala sekolah menerima tenaga pengajar honorer, saya memilih untuk kembali bekerja sebagai pengajar di bimbingan belajar. Profesi yang saya geluti selama kurang lebih 3,5 tahun di Bandung. Agak tenang juga ketika saya mengambil keputusan ini. Karena sebelumnya sudah disampaikan kepada camer. Dan beliu menyambut keputusan saya dengan baik. "Gak apa-apa kerja di mana saja dulu, nanti kalau ada tempat yang lebih baik tinggal pindah saja." Masalahnya, di bimbingan belajar yang akan menjadi tempat kerja saya ini memiliki aturan bahwa karyawan yang resign sebelum masa kontrak habis harus membayar ganti rugi sebesar 10 juga. Bagi saya uang segitu masih kerasa gede. Tapi sesuai dengan perbincangan saya dengan seorang teman, saya berani memberikan ganti rugi tersebut ketika memang saya mendapat pekerjaan yang lebih baik. "Kalau memang dapat pekerjaan yang lebih baik, gak masalah memberikan ganti rugi 10 juta sekali pun. Toh nanti bakal keganti kan." Begitu saran dari temanku.

Semoga setelah saya aktif bekerja ada waktu dan tempat yang tepat bagi saya untuk menyampaikan maksud saya kepada camer, yaitu melamar anaknya untuk saya nikahi.

Oleh Opan pada
Seorang guru matematika yang hobi menulis tiga bahasa, yaitu bahasa indonesia, matematika, dan php. Dari ketiganya terwujudlah website ini sebagai sarana berbagi pengetahuan yang saya miliki.

Demi menghargai hak kekayaan intelektual, mohon untuk tidak menyalin sebagian atau seluruh halaman web ini dengan cara apa pun untuk ditampilkan di halaman web lain atau diklaim sebagai karya milik Anda. Tindakan tersebut hanya akan merugikan diri Anda sendiri. Jika membutuhkan halaman ini dengan tujuan untuk digunakan sendiri, silakan unduh atau cetak secara langsung.

Protected by Copyscape