Nilai Siswa Kurang, Salah Siapa?

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Kalimat tersebut sering digunakan sebagai alibi bilamana seseorang melakukan kekeliruan. Kesalahan atau kekeliruan memang wajar terjadi. Tapi kalau kesalahan tersebut terulang kembali di kesempatan yang lain, itu namanya kurang ajar. Kesalahan yang pernah dialami seharusnya dijadikan pelajaran agar tidak terjadi kesalahan serupa di lain kesempatan. Setiap kesalahan pasti ada sumbernya. Biasa kita sebut sebagai kambing hitam. Hewan yang satu ini sering dicari-cari ketika terjadi kesalahan. Entah kenapa hewan ini yang dijadikan perumpamaan. Kasihan... Padahal dia gak berdosa.

Dalam praktik pendidikan juga sering ditemui kambing hitam. Kambing hitam ini sering dicari-cari ketika terlihat indikasi kegagalan dalam pendidikan, khususnya pembelajaran. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa pendidikan dianggap gagal bila siswa-siswa memiliki nilai yang kurang pada sebuah ujian. Pandangan ini cukup sempit, karena berhasil-tidaknya praktik pendidikan tidak hanya dilihat dari nilai hasil ujian siswa-siswa. Tetapi dilihat juga dari perubahan sikap siswa dan perubahan kompetensi siswa. Namun, tetap saja yang terlihat di luar nilai hasil ujian itu cukup penting. Bahkan dijadikan tolak ukur pintar-tidaknya seorang siswa.

Siapakah kambing hitam penyebab kurangnya kemampuan siswa yang ditunjukkan oleh nilai yang kurang? Tentu setiap orang punya argumen masing-masing. Tentunya, kambing hitam juga punya alasan ketika mereka disalahkan. Berikut ini adalah beberapa yang mungkin menjadi kambing hitam ketika nilai atau prestasi siswa menurun.

Murid kurang pintar
Ketika seorang siswa yang memiliki kemampuan yang kurang mendapat nilai kecil dari hasil ujiannya, semua orang pasti akan mewajarkannya. Tapi apakah kurangnya kemampuan siswa merupakan satu-satunya penyebab siswa memiliki nilai yang kecil. Tidak menutup kemungkinan siswa yang pandai sekali pun mendapat nilai yang kecil untuk mata pelajaran yang dikuasainya. Banyak faktor yang mempengaruhi nilai seorang siswa diantaranya adalah faktor psikologis siswa tersebut ketika mengikuti ujian. Nilai yang kecil tidak hanya diperoleh oleh siswa yang memiliki kemampuan yang kurang. Setiap orang dilahirkan dengan rancangan otak yang sama. Yang membuat kemampuan seseorang berbeda-beda adalah lingkungan tempat dia berada dan pola hidup yang dijalaninya. Bagi siswa yang rajin, sangatlah wajar ketika dia selalu mendapat nilai yang tinggi dalam setiap ujian, begitu pun sebaliknya. Siswa yang pada dasarnya memiliki kemampuan yang kurang jika diimbangi dengan rajin belajar dan berlatih akan menjadikan dirinya memiliki kemampuan yang lebih baik.

Guru kurang cerdas
Seorang guru paling sering dijadikan kambing hitam ketika siswa-siswa di kelasnya memiliki nilai yang kecil pada saat ujian. Tidak dapat dipungkiri bahwa guru sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Guru yang cerdas dan kreatif dapat membuat suasana pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan. Dengan demikian siswa merasa aman, nyaman, dan tenang ketika belajar di kelas. Oleh karenanya siswa bisa belajar lebih baik. Tidak semata-mata penurunan prestasi siswa melalui nilai adalah kesalahan guru. Kalau memang seorang guru tidak melakukan pembelajaran dengan baik maka guru tersebut pantas dipersalahkan. Tidak dengan guru yang telah melaksanakan pembelajaran dengan baik. Tapi kadang usaha yang dilakukan oleh guru tidak selalu berbanding lurus dengan prestasi siswa.

Orang tua kurang perhatian
Bagi orang tua, anak adalah segalanya. Alasan mereka bekerja keras salah satunya bertujuan untuk membiayai hidup anaknya. Kerja dari pagi sampai malem dilakukan demi anaknya. Tapi mereka lupa dengan hak anaknya, yakni mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Pagi-pagi sekali sebelum anaknya terbangun sudah berangkat kerja dan malem-malem ketika anaknya sudah tertidur lelap baru pulang kerja. Anak yang kurang perhatian biasanya kurang motivasi untuk berprestasi. Bahkan, banyak kejadian kenakalan remaja diakibatkan karena kurangnya perhatian orang tua kepada anaknya.

Metode pembelajaran yang dilakukan guru kurang tepat
Begitu banyak metode, pendekatan, dan model pembelajaran yang dicetuskan oleh ahli pendidikan baik di dalam negeri atau pun di luar negeri. Metode pembelajaran yang kurang bervariasi membuat siswa merasa bosan belajar. Namun perlu pintar memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan disampaikan. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Cara belajar siswa kurang baik
Setiap siswa memiliki cara belajar masing-masing. Ada yang sambil dengerin musik, ada yang harus tenang, ada yang harus belajar di luar ruangan, ada yang ingin belajar sendiri, ada yang ingin belajar bersama teman-temannya, ada yang cukup belajar dengan hanya menyimak penjelasan guru, ada yang harus ikutan bimbingan belajar, ada yang harus mendapat guru privat, dan masih banyak lagi yang lainnya. Apabila dengan cara belajar yang digunakan sekarang prestasi di sekolah biasa-biasa saja dan tidak membuat semakin paham, berarti ada yang salah dengan cara belajar tersebut. Perlu memperbaiki cara belajar agar lebih baik lagi. Dan yang terpenting adalah belajar. Ikut ujian tanpa persiapan itu namanya bunuh diri. Jangan salahkan orang lain jika usaha yang dilakukan belum maksimal dan hasil yang didapat kurang memuaskan.

Oleh Opan pada
Seorang guru matematika yang hobi menulis tiga bahasa, yaitu bahasa indonesia, matematika, dan php. Dari ketiganya terwujudlah website ini sebagai sarana berbagi pengetahuan yang saya miliki.

Demi menghargai hak kekayaan intelektual, mohon untuk tidak menyalin sebagian atau seluruh halaman web ini dengan cara apa pun untuk ditampilkan di halaman web lain atau diklaim sebagai karya milik Anda. Tindakan tersebut hanya akan merugikan diri Anda sendiri. Jika membutuhkan halaman ini dengan tujuan untuk digunakan sendiri, silakan unduh atau cetak secara langsung.

Protected by Copyscape