Pengalaman Kuliah Sambil Kerja

Tidak seperti Saya, orang lain mungkin masih mendapatkan rejekinya melalui kedua orang tuanya. Semenjak 14 Maret 2009, ketika Bapak Saya meninggal dunia Saya tidak lagi mendapatkan suply "uang jajan". Untungnya Saya telah menyiapkan beberapa tabungan yang Saya kumpulkan pada waktu sebelumnya. Tidak hanya itu, ada pula pemasukan dari orang yang mau belajar dengan Saya dan memberi Saya bayaran. Tak hanya dari sana, dengan keterampilan yang Saya pelajari sebelumnya Saya mendapat tambahan rejeki. Beberapa lagi Saya dapatkan dari harta peninggalan orang tua Saya. Tapi semua itu hanyalah rejeki yang statis, yang akan habis jika digunakan terus menerus. Selayaknya jika demikian langkah yang harus diambil adalah bekerja.

Semester 6 pun berakhir, seiring dengan berakhirnya kegiatan perkuliahan Saya di kelas. Saya dapat memanfaatkan waktu sehingga bisa menyelesaikan perkuliahan di kelas dengan cepat. Tapi apalah kebanggaannya. Semester 7 Saya lalui dengan mengikuti mata kuliah lapangan yang bernama Program Latihan Profesi di tempat yang Saya pilih tidak jauh dari tempat tinggal Saya. Alasannya supaya tidak banyak ongkos yang keluar sehingga tidak menambah pengeluaran yang dapat mengurangi stok simpanan uang Saya. Segala rencana terlintas ketika menjelang akhir PLP, salah satunya adalah mendapatkan pekerjaan. Dengan begitu Saya bisa kembali mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk Saya dan keluarga.

Sampai pada saat temanku yang sudah bekerja di suatu bimbingan belajar mengabari Saya bahwa bimbingan belajar tersebut sedang membutuhkan lebih banyak karyawan. Karyawan yang dibutuhkan adalah seorang pengajar yang cocok untuk Saya ambil kesempatannya. Berharap jadi pengajar matematika dan mendapat penghasilan di bimbingan belajar tersebut, Saya datang bersama surat lamaran, CV, dan syarat lainnya yang diminta. Hari itu pun Saya diminta mengikuti beberapa tes. Beberapa hari kemudian, Saya dan beberapa kawan lainnya mengikuti tes bidang studi, wawancara, psikotes, dan serangkaian tes lainnya termasuk tes dari "Alam". Di akhir tes, terdapat 5 orang yang lolos waktu itu dan salah satunya adalah Saya. Senang rasanya bisa berkesempatan bekerja di tempat yang sesuai dengan kemampuan Saya.

Sekarang Saya sudah memasuki dunia kerja. Sudah merasakan capeknya bekerja, padahal baru sebentar saja merasakannya. Dimulai dari pelatihan yang sangat dasar sekali sehingga disebut sebagai basic training. Saat-saat yang melelahkan. Bayangkan saja mulai dari pukul 9 sampai pukul 12 harus berkegiatan. Bukan kegiatan biasa, tenaga dan pikiran Saya gunakan. Tenaga untuk mengeluarkan suara selama itu (menurut Saya relatif lama, karena jarang dilakukan) dan pikiran mengenai materi pelajaran yang harus disampaikan. Tidak berhenti sampai sana, setelahnya Saya diminta untuk melakukan observasi yang membosankan. Selagi mengajar di kelas bersama murid, Saya juga masih harus mengikuti beberapa pelatihan yang dilaksanakan pagi hari sebelum jam mengajar tiba.

Itulah kerja keras yang Saya alami di awal masuk dunia kerja. Keras menurutku, tapi mungkin tidak menurut orang lain. Saya bukanlah anak orang kaya, tapi Saya bersungguh-sungguh bekerja keras meraih cita-cita agar anak-anakku terlahir sebagai anak orang kaya. Saya harus memenuhi kebutuhan hidup Saya mulai dari sekarang dengan bekerja, tidak lagi bisa mengandalkan orang tua. Memang bekerja keras itu melelahkan. Saya ubah persepsi tersebut bahwa dengan terbiasa bekerja keras, Saya akan terbiasa menghadapi hal-hal sulit. Bekerja keras saja bisa, apalagi bekerja yang kurang keras.

Saya sebenarnya berhak untuk mengeluh atas keadaan seperti itu. Saya memang mengeluh karena Saya begitu lemah. Bukannya Saya kurang bersyukur atas kelemahan Saya ini. Saya hanya menyadari begitu tidak berdayanya Saya tanpa pertolongan Allah. Semua kekuatan ini atas pertolongan-Mu ya Allah.

Oleh Opan pada
Seorang guru matematika yang hobi menulis tiga bahasa, yaitu bahasa indonesia, matematika, dan php. Dari ketiganya terwujudlah website ini sebagai sarana berbagi pengetahuan yang saya miliki.

Demi menghargai hak kekayaan intelektual, mohon untuk tidak menyalin sebagian atau seluruh halaman web ini dengan cara apa pun untuk ditampilkan di halaman web lain atau diklaim sebagai karya milik Anda. Tindakan tersebut hanya akan merugikan diri Anda sendiri. Jika membutuhkan halaman ini dengan tujuan untuk digunakan sendiri, silakan unduh atau cetak secara langsung.

Protected by Copyscape